Nov 28, 2011

CAT program

exchange culture barangkali menjadi isu yang sangat penting bagi negara maju termasuk Jepang, yang notabene adalah salah satu tujuan pendidikan dan wisata bagi warga dunia. Jauh-jauh hari mereka telah mempersiapkan anak-anaknya untuk dapat mengenal keberagaman budaya dan keindahan negara lain. Saya pikir, ini adalah cara yang paling efektif untuk mendekatkan anak didik mereka terhadap budaya asing agar kelak mereka tidak mengalami cultural shock ketika berinteraksi.Boleh dibilang, orang-orang jadul nya jepang sangatlah kaku dan memiliki wawasan terbatas tentang luar negeri, dan agaknya mereka belajar dari masa lalu, hingga ide community active program tercetus. program ini merupakan sebuah program inisiasi antara sekolah Elementary Jepang dan IUJ (International University of Japan) untuk menambah wawasan dan cakrawala siswa terhadap budaya asing. Maka antusiaslah para siswa ini pada setiap kedatangan mahasiswa asing ke sekolahnya untuk memberikan presentasi mengenai berbagai negara, permainan tradisional, hingga pakaian dan mata uang turut diperagakan. dan Saya, sebagai salah satu mahasiswa disana, juga ikut senang, karena mereka sangat ramah, lucu serta membuat saya rindu akan masa kecil.Berikut beberapa foto yang bisa saya tampilkan:










Nov 25, 2011

hanya es lilin.

teman...masa lalu adalah sebuah batu yang satu persatu menjadi anak tangga menuju kehidupan kita sekarang. kemanapun tangga itu mengarah, ditentukan dari tindakan kita sebelumnya.

entahlah, sejak memiliki anak, aku berkali-kali flashback pada masa kecilku. mencari siapa aku dulu, bagaimana aku berlaku hingga menelorkan aku yang sekarang. ini bukan mengenai egoisme, tapi mengenai koreksi dan apresiasi agar kelak aku dan istri bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak-anakku. seperti Papa dan Mama.

es lilin adalah bagian yang tak terpisahkan dalam masa kecilku. dahulu, ketika mengajar di SD Mardisiwi III, Mama ikut aktif mengisi aneka jajanan di kantin sekolah kami. hitung-hitung sebagai tambahan pemasukan karena gaji guru sungguh kecil sekali. sementara Papa adalah PNS. tahu sendiri bagaimana gaji guru dan PNS tahun 90an. yang pasti kami hidup pas. tidak lebih, dan sesekali kurang.

maka, setiap hari sepulang mengajar, Mama rutin membeli essence dan pemanis di toko India pasar padang. setibanya dirumah, beliau merebus air sepanci kecil, mencampur essence dan pemanis sebagai bahan dasar. biasanya, es lilin itu diberi essence orange karena menarik dan mewah kayak sirup abc. harga nya kalau tidak salah seratus rupiah. es biasanya dibawa sejumlah 100an bungkus, dan seringnya bersisa sekitar 10 atau 20 bungkus. kadang ada juga yang pecah saking dinginnnya. maka, tiap hari aku kebagian tugas memotong karet untuk membungkus es, sementara mama sibuk mengikat es tersebut. tak ayal, tangan dan kuku beliau ikut menguning karena terlalu sering membungkus es :). dan beliau punya cara khusus untuk menghilangkan bekas itu, ialah cukup dengan menggosok dengan jeruk nipis, dan segala jejak essence ditangan segera hilang. meski setelahnya kulit telapak tangan mengerut.

tugas ku berikutnya adalah mengambil dan menghitung es dari kulkas untuk diangkut ke sekolah. jujur saja, kadang saking dinginnnya, suka salah hitung, hehehe...kalau sudah begini, biasanya bandar suka rugi...
namun tu tidaklah masalah besar jika hanya selisih sedikit, buat Mama asal dagangan laku itu sudah lebih dari cukup.

pernah suatu kali, ketika SMP, aku disuruh Mama membawa es lilin agak siangan lantaran kalau dibawa pagi hari, es itu telah kadung lembek sebelum jam 12. aku masih 1 SMP, dan kebetulan SMP 4 Padang mewajibkan siswa baru untuk masuk siang. jadi ada tenggang waktu untuk membawa es ke SD sebelum lanjut sekolah siang. sisi baiknya, aku pun jadi tidak terburu-buru kesekolah.

pada satu waktu, RCTI pagi menayangkan film india mitun cakraboti, pelakon favorit seantero asrama ganting. rasanya sayang jika melewatkan aksi film yang satu ini karena beladirinya memang yahud. ketika itu masih pukul 10, dan aku lanjut saja menonton dengan niat bahwa jam 11 baru berangkat mengantar es ke SD. faktanya, aku termasuk tipe orang yang ceroboh, karena suka melakukan sesuatu dimenit-menit akhir, sehingga apa yang seharusnya bisa maksimal, jadi seadanya karena tenggat waktu yang kadung mepet.

saking enaknya nonton, itu jam sudah bertengger pada angka setengah 12..dan aku kaget serta segera menuju kamar mandi dan selanjutnya buru-buru memasukkan es kedalam plastik. lari-lari aku kedepan gapura asrama ganting untuk menyetop mikrolet.

selanjutnya kejadian apes menimpa, kecerobohan berbuah sengsara. sayang seribu sayang, plastik yang digunakan mengangkut es itu jebol karena terlalu tipis sebaliknya jumlah es terlalu banyak: 120 bungkus sehingga menyerakkan hampir setengah isi plastik ketrotoar. es disana-sini dan sebagian berlumuran pasir. aduh!!

Walhasil, aku pungut satu-satu es itu satu persatu, yang bersih hanya aku lap dengan tisu.

kalau tidak salah ada sekitar sepuluh bungkus es yang bergelimang pasir, dan aku coba berpikir cepat dengan mencari kran air rumah warga. namun rentang waktu terlalu mepet, maka aku berpikir cepat dengan membuang saja 10 bungkus es itu.

maka aku tutupi kantong plastik yang bolong itu dengan tangan sembari menyetop mikrolet dan kemudian naik. percayalah, dingin nya kala itu luar biasa. namun rasa bersalah setimpal untuk tindakan ini. bahkan tangan ku sampai kebas dan putih karena harus menopang bawahan plastik agar es ini bisa tiba ke SD dengan sentosa. lantas sepanjang jalan, berkali-kali aku tepuk lenganku agar tidak terlalu dingin.

aku tidak mau mengecewakan Mama yang sudah capek membungkus es tersebut. ada sedikit penyesalan mengapa malah es itu dibuang saja, serta mengapa jadi terlambat begini. parahnya ini cuman gara-gara mitun cakraboti...

aku kelas 1 SMP, namun pada titik itu aku mulai belajar pentingnya mengatur waktu dan menjaga kepercayaan orangtua. dan setiba di SD, aku langsung bilang kalau es telah kubuang 10 biji karena kotor. untung dapat dimaklumi...fiuuh.

momen itu aku mengerti betapa memaafkan kesalahan orang lain adalah sebuah tindakan mulia. mungkin Mama kesal, namun ia memaklumi saja kesalahanku, dan betapa aku bersyukur saat itu dan bertekad tidak akan melakukan kebodohan serupa dimasa mendatang...


dari orangtua lah aku belajar memaknai pentingnya bersabar, berjuang dan bekerja keras untuk keluarga.

es lilin akhirnya tiba meski agak terlambat, jam 12.20, untungnya jam istirahat SD cukup panjang, sehingga jual beli tetap terlaksana.


(Selamat hari guru...)




Nov 23, 2011

Cerita Lama: Ganting dan Layangan

Ganting, adakah yang tahu itu dimana? jikalau kawan tinggal disekitaran kota Padang, haruslah tahu tempat ini. Asrama yang diisi oleh Tentara (tentu saja!) serta keluarga dan anak-anaknya, yang hidup berdampingan dalam satu komunitas dengan nuansa keABRIan sangat kentara. maka siapapun hendak lewat apalagi kepingin mencuri, mestilah berpikir dua kali.

untungnya (atau celakanya), Saya dibesarkan disana, tempat markasnya para baju loreng yang kemudian menginduksi anak mereka melalui pendidikan sedikit keras hingga menelorkan generasi mental baja dengan efek samping: kenakalan maha dahsyat.

Saya tentunya bukan bagian dari kenakalan tersebut, cuma yaa....sedikit ikut-ikutan saja :D. kami pindah ke Ganting pada tahun 1994, saya memasuki kelas 4 SD, saat itu Papa dan Mama sedang dalam tahap menjalani hidup mandiri sebagai keluarga. baru kini, setelah Saya berkeluarga, Saya begitu salut dengan langkah beliau. benar, untuk melakukan itu butuh keberanian dan tekad. apalagi dengan modal seadanya, dan anak dua masih kecil-kecil (saya dan adik kedua), maka kami sekeluarga berlabuh disana.

awal kepindahan kami, sungguh penuh dengan dilema. bagaimana tidak, rumah ini sungguh kecil dan pas-pasan. hanya lurus memanjang kebelakang dan disekat kecil-kecil pada tiap ruangannya. atapnya sangat tinggi, karena rumah itu konon dibangun berpuluh tahun lalu. kalau tidak salah ada penyekat tembok sejumlah 4 pada ruang memanjang itu, sehingga memisah antara ruang tamu, ruang tivi sekaligus kasur tidur, ruang untuk tidur bagi orangtua kami, dan kamar mandi serta dapur. dilema ini kian berlanjut karena di Ganting tidak dikenal istilah toilet pribadi: tempat orang buang hajat, dan yang disediakan hanyalah kamar mandi merangkap tempat cuci pakaian. serta toilet umum sejarak 5 menit yang sudah rusak dan kotor amat sangat. Saya ketika itu masih kecil, 4 SD, bahkan tak cepat bergaul dengan komunitas baru.

lambat laun, pergaulan yang tadinya terdapat jurang, melunak juga seiring dengan berjalannya waktu. Saya pun akhirnya tidak melulu menutup diri bermain dirumah, sedikit-sedikit mulai punya teman: di mesjid, di sebelah rumah, hingga akhirnya di seberang komplek.

dari sini saya mengenal bahwa di Ganting ini terdapat banyak musim. tidak hanya musim hujan dan panas, namun ada pula musim kelereng, musim layangan, musim kotak rokok (seni melipat bungkus rokok yang kemudian memiliki value berdasarkan kelangkaan jenis rokok tersebut), hingga musim tutup botol limun (menggepengkan tutup minuman soda hingga tutup kecap bango).

Suatu ketika, musim layangan sedang menjadi-jadi di Padang. jika menatap langit, maka burung kalah banyak dibanding layangan. agaknya hampir semua teman seumuran saya memiliki layangan, mulai dari yang murahan hingga layangan mahal yang bisa bersuara (layang danguang). saya lupa kapan, tapi kala itu ada pertandingan adu layangan lumayan besar di Terandam (asrama tentara seberang). yang mana, apabila layangan itu kalah dan putus benang, maka ke Ganting lah muara jatuhnya. dan ada aturan tak tertulis untuk itu: barangsiapa yang menemukan layang putus itu, maka hak milik jatuh kepadanya, kecuali ada sejumlah tebusan sebagai upah kejar layangan.

oleh karena itu, saya dan beberapa anak-anak seumuran sudah siap sedia menanti di lapangan depan mesjid untuk melihat-lihat progress pertandingan itu. lapangan depan mesjid memiliki jarak pandang cukup luas. dan kali-kali ada satu layangan yang putus, maka kami akan mengejarnya. masalah siapa yang dapat duluan, itu urusan belakangan...

berdasarkan info dari biaya tebusan untuk layangan itu biasanya cukup besar: sekitar 3 ribu sampai 10 ribu (dulu lumayan besar). maka kami, gerombolan pengejar layangan ini telah standby dengan sebuah tongkat bambu kayu, sepeda jika ada, dan sendal yang cukup sehat, karena sungguh tidak lucu jika saat adegan kejar-kejar layangan, sendalnya malah putus.

ada kiranya kami menunggu sepanjang siang hanya demi melihat layangan mana yang putus benang sambil mendengar cerita-cerita seru tentang ksatria baja hitam dan winspector yang dulu lumayan tenar seantero teman-teman saya. obrolan film habis, berlanjut pula pada koleksi tazos teman saya yang sudah menggunung dan selalu ia bawa kemanapun pergi. karena dulu punya tazos itu sangat kaya. artinya si empunya sering beli chiki atau chitato yang harganya mahal bagi kami..

koleksi tazos pun habis dipameri. namun layangan ini tak kunjung putus jua...

lama tiada kepastian, akhirnya saya memutuskan untuk kembali kerumah sambil minum segelas dua air.

tapi memang pucuk jua yang dicinta, entah bagaimana ceritanya, ketika saya telah jauh meninggalkan gerombolan itu. tiba-tiba saja beramai-ramai orang berlari kearah saya.

dalam hati saya berpikir, apa kah ada sesuatu yang ketinggalan disana? tapi agaknya mereka terlalu baik untuk mengembalikan kepunyaan saya. maka pikiran saya otomatis mencari jawaban alternatif.

dan sekonyong-konyong saya lihat kearah langit yang ternyata telah tertutup oleh layangan selebar tangan saya. saya kaget bukan kepalang. ini namanya durian runtuh..

hanya beberapa senti diatas saya, benang nilon layangan itu pasrah jatuh kebawah, gravitasi ambil bagian. saya pun dengan cekatan melompat lantas menarik benang itu.

sungguh luar biasa...ada kepuasan sendiri ketika sebuah layangan tepat jatuh didepan anda, sementara orang-orang lain berkejaran dibelakang hendak memperebutkannya..

maka ketika benang layangan itu telah stabil, saya tarik cepat-cepat hingga layangan itu berada ditangan saya, utuh. dan apalagi yang dipikiran saya, selain juga ikut lari...

karena jika masih tetap dilokasi, niscaya akan ada amuk masa untuk sekedar merobek atau mematahkan bambunya. prinsipnya, jika bukan mereka yang dapat, setidaknya value barang tersebut berkurang, atau rusak sama sekali :D.

ya..saya lari kerumah, lantas menutup pagar rumah..

saya berusaha mengamankan barang tanpa hak milik itu.

===

beberapa hari setelahnya, datanglah dua orang berkendara motor astrea hitam kedepan rumah saya...usut punya usut ternyata mereka hendak menebus layangan itu. dengan senang hati saya menerima uang tebusan senilai 1000 rupiah karena saya masih demikian kecil dan dikasih 1000 saja sudah senang. pikir saya, itu sudah cukup untuk main dingdong street fighter sepuluh kali.

jadi, pada akhirnya...saya mulai berpikir mungkin saya memang tidak terlalu nakal ketika kecil..ya kan??

Feb 18, 2011

Dodi, teman SD

Kali ini aku ingin kembali mengenang masa kecilku. yaah, hanya sekedar mengingat mengenai sejarah hidupku sendiri yang barangkali tiada berguna bagi orang lain, namun untukku menyimpan makna mendalam. Ini kisah terjadi ketika aku berada di dalam ruang pengap di SD Mardisiwi III Padang, kelas 4. Sekolah ini selain sebagai sumber menuntut ilmu bagiku, juga merupakan sumber mata pencarian Mama ku, Mama disana sebagai guru kelas 1 dan 2, kemudian sekali dalam sehari sekolah beliau juga mengajar kesenian dan bahasa inggris (sungguh aku mengagumi beliau, memiliki banyak keahian dan serba bisa). Beliau lah yang menginisiasi agar aku sekolah SD ditempat yang sama dengan beliau, sementara Papa menyetujui nya, karena selain aku lebih bisa terkontrol, dan biaya antar jemput pun jauh lebih murah.

Sebenarnya, sekolah negeri yang tidak jauh dari sekolah ku pun ada, namun Orangtuaku haqqul yaqin bahwasanya sekolah tersebut dipenuhi dengan anak-anak nakal dan kurang terurus. dan memang benar begitu.

Oke, cerita ini bersetting dikelas sebelah ruang guru. aku, ketika kecil tidak pernah jauh dari pangkat ketua kelas, entahlah, apa karena Mama juga mengajar disana, sehingga aku ikut-ikutan memiliki andil dalam mengatur kegiatan teman-teman dikelas. bisa juga karena Mama adalah guru disana yang membuat ku lebih menonjol ketimbang teman-teman lain serta memiliki sedikit "otoritas" untuk semena-mena. Lebih tepatnya, aku tidak takut dengan teman siapapun, karena sepertinya teman-teman lainpun enggan berurusan dengan anak guru! haha...ini betul-betul warisan orde baru. karena si anu anaknya si anu, jadi si anu yang lain tak berani meng anu-anu in si anu.

Tak tahu mengapa, aku dulu paling tidak suka dengan satu orang teman kelasku, namanya Dodi, aku lupa nama lengkapnya, tapi dia itu si Dodi. anak kecil yang atraktif, lari kesana kemari, bermuka kusam, dan suka menggoda teman-teman perempuan. Dan aku, sebagai pihak otoritas, senantiasa melakukan tindakan preventif, semacam menendang, mencekik atau memukul kepalanya. Atau sekali-kali aku juga sering menendang nya tanpa alasan jelas..betul-betul nista!! penindasan!!

Kala pagi menjelang siang itu, Kami sekelas mendapat pendidikan belajar kesenian (ketika itu tidak diajar oleh Mama) yang benar-benar kusambut dengan antusias (Sejak kecil aku memang suka hal-hal berbau seni, hanya saja nasib tak menggiring ku menjadi seniman). Aku gemar sekali menggambar.Well, seharusnya pelajaran jam itu bukan kesenian, melainkan agama, tapi karena guru yang bersangkutan tak ada, akhirnya digantilah pelajaran kami menjadi kesenian yang adalah pelajaran favorit semua siswa. Ditambah lagi gurunya tak ada, anak-anak kecil ini semakin leluasa dan kegirangan, bak anak ayam tak berinduk. Sehingga terjadilah keributan sedemikian rupa, guru-guru kelas sebelah pun berulang kali masuk kelas kami dan menegur. Nah, kalau sudah begini ceritanya, yang menjadi tumbal pastilah ketua kelas, karena tidak bisa mengontrol teman-temannya. Saking tak terbendungnya keberisikan ini, Kepala Sekolah pun akhirnya masuk, ia bernama Ibu Masnety.

"kenapa kok kelas ini berisik sekali??"
semua siswa diam..

"Siapa yang tadi berisik??"
semua siswa tetap diam..

"Fino, coba tenangkan kelasnya..."
"iya Bu.." jawabku...

kemudian Bu Mas kembali keruangannya...

Sepeninggalan beliau kelas ini kembali berisik. Aku bahkan tidak konsentrasi lagi untuk membuat gambar, karena seisi kelas begitu berisik. Dan, tak tahu mengapa..kalau sudah urusan ribut dan berisik, aku selalu berpatok pada satu orang: Dodi.

memang ia ikut-ikutan berisik dan berlari kesana kemari, namun jujur saja, sebenarnya yang lain juga begitu.

Pokoknya tak tahu apa dan bagaimana sebabnya..tiba-tiba aku mengejar Dodi yang berlari kesana kemari. Begitu ia sadar ancaman bahaya dibelakangnya, ia kemudian berlari lebih kencang memanjat meja dan kursi siswa yang lain
aku menanah...

Bagaimana caranya membuat kelas ini tidak ribut. dan satu-satunya cara terpikir dalam benakku adalah dengan mengintimidasi Dodi, caranya simpel saja. aku mulai dengan mengejarnya hingga dapat dan mencekik lehernya demikian keras.

dan tidak meleset, memang itu yang aku lakukan.

sungguh dulu aku tak memiliki pikiran bahwa mencekik leher seseorang itu akan berdampak buruk, sangat buruk. karena sebelum-sebelumnya, jika aku mencekik leher teman lain, mereka cukup bilang ampun saja. maka hal itu berakhir.

Dodi, ketika ku cekik tidak bicara apa-apa..aku begitu bodoh ketika itu berpikir bahwa dia tidak jera dengan aksi kekerasan yang aku lakukan. tetap saja ia kucekik dan semakin keras, semakin keras dan semakin keras...

sampai akhirnya Dodi mukanya memerah. kala itu aku mulai panik dan tanpa duga melepas cekikan. seketika Dodi bernapas lega dan sambil mengelus-elus lehernya, ia menangis...

sungguh aku demikian bodoh melakukan tindakan serupa itu. dia menangis sangat lama, bahkan untuk ukuran tukang ribut sekalipun. dan memang ketika itupun aku tahu betapa keterlaluannya tindakan itu.

maka sebagai pengganti rasa bersalah, aku membuatkan gambar untuknya, yang bahkan lebih bagus dari kepunyaan ku. entahlah, hanya itu yang bisa kulakukan untuk menebusnya...


dari sana, aku belajar dan mengerti bahwa sebenarnya, kekuasaan adalah kejahatan jika berada ditangan yang salah. dan kekerasan tidak pernah menyelesaikan masalah :(.

sejak itu aku enggan untuk mengasari orang lain, atau sekedar memberi tonjokan pada teman terkecuali itu sangat perlu.

Dodi, kini entah dimana, dan entah bagaimana rupanya. namun jika bertemu, aku ingin sekali dengan tulus meminta maaf atas kejadian masa kecil itu.


Jan 9, 2011

Dec 28, 2010

papirus

apakah aku benar-benar hidup?
benarkah ini aku yang sedang menulis. atau aku sedang digerakkan dengan remote control oleh sesuatu ditempat yang tak terlihat.
gila.


Nov 30, 2010

papirus

"dewasa"..
sungguh merupakan kata yang aneh ketika kita tidak tahu mengenai definisinya. apakah dewasa berkaitan dengan usia? saya meragukan itu lantara banyak makhluk disekitar saya yang telah berusia tua namun masih gemar berlaku kanak-kanak. apakah dewasa berkaitan dengan pola pikir? saya malah bingung bagaimana pola pikir dewasa tersebut. atau lebih spesifiknya apakah dewasa memiliki pola.

jika berbicara mengenai film dewasa, maka tak satupun yang mengacu pada sinetron, padahal nyaris semua sinetron bukan diperuntukkan bagi anak-anak, dan diperankan oleh orang dewasa. film dewasa malah mengacu pada adegan vulgar dan telanjangisme yang diekspos secara agresif. lantas muncul pikiran, bagaimana mungkin film semacam ini hanya ditonton oleh orang yang mengaku dewasa, sementara reaksi manusia setelah menyaksikannya sangan variatif dan beragam. artinya, apakah dengan membatasi usia penonton film ini, maka efek buruknya dapat dikurangi? saya sangsi. dan dimana letak kedewasaannya jika setelah menonton film ini justru mengundang sifat yang tidak dewasa, seperti memperkosa atau berhubungan seks bebas.

maka saya sangsikan definisi dewasa dalam setiap aspek. saya pikir tidak ada yang benar-benar bisa mendefinisikan dewasa. maka saya usul sebaiknya dewasa dihapus saja dari kamus besar. buat apa coba?

Oct 22, 2010

papirus

pukul satu dini hari... aku mendapati tubuhku nyaris membeku dalam kenyamanan yang ditawarkan dunkin donuts kaliurang. aku benar-benar sendiri kawan...seperti anak hilang dalam pelariannya dari rumah.

nyaris 4 jam lebih aku berdiam disebuah pojok yang tidak terlalu enak, tapi lama-lama justru semakin betah. kuhabiskan beberapa jam sebelumnya untuk mempelajari matematika ekonomi yang complicated (karena bisa gampang bisa susah). melihat suasana sekitar, seperti anomali. keramaian yang tidak terlalu bising di tengah malam begini. sungguh luar biasa.

nyaris semua membuka laptop atau membuka buku-buku tebal yang tidak jelas kegunaannya untuk masa depan. dan aku? hanya membawa catatan yang akan kuselesaikan dalam dua episode. episode terakhir adalah esok pagi sebelum ujian pukul dua.

semakin malam, mataku semakin menyala, berbanding terbalik dengan otakku, yang sudah merosot performanya. tak salah dua soal pertama kuselesaikan lebih dari satu jam.

mengingat malam seperti ini, aku teringat pada sebuah malam di masa kuliahku. aku lupa semester berapa, tapi aku ingat pernah berkali-kali mengajukan permintaan setiap ada gerakan bintang dilangit. aku tak ingat mengenai permintaan apa, tapi mungkin saja salah satu permintaan itu membawa ku pada saat ini, dan malam ini. tak ada yang bisa kuucapkan selain kata syukur bahwa segala nikmat, tak lain tak bukan atas ijin dari Nya. Nya yang terkadang aku lupa, Nya yang melindungi ku hingga sekarang, Nya yang maha tahu semua rahasia masa depanku, Nya yang maha sempurna hingga aku tak akan mencari pengganti.

dan kembali pada bumi, dimana aku berada, bersandar pada kursi rotan dengan bantalan nyaman. dan mendengar lagu-lagu melankolis dari tv kabel. aku menimati momen sendiri ini. betul

terima kasih.